Pagi tadi habis diskusi kecil sama ibuku. Gara²nya dia liat berita tentang pengepungan SMA 6 Jakarta oleh wartawan. Dia heran, ngapain para wartawan ini ngepung sekolahan, apa ada kasus di situ. Kujelasin kalau jum'at lalu, ketika ada tawuran antara SMA 6 dan SMA 70, ada kamerawan TransTV yang sedang meliput, dikeroyok beberapa siswa SMA 6 dan dirampas kasetnya. Makanya para wartawan ini menggelar aksi ke SMA 6 Senin kemarin. Komentar ibuku, "apa bedanya para wartawan ini dengan siswa yang tawuran. Hanya karena ada kawannya diserang, lalu serombongan balas menyerang si penyerang."
Kalo dipikir-pikir ada benarnya juga. Para wartawan ini mestinya lebih dewasa dong dari anak-anak SMA. Apalagi mereka jurnalis, yang mestinya tau etika dan sopan santun. Kalo aku baca berita di internet, sebenernya perwakilan dari wartawan itu sudah bertemu dengan Kepala Sekolah, beliaupun sudah menyanggupi keinginan mereka. Tetapi ketika mereka diminta untuk bubar, masih saja ada yang tetap berdiam di sana, padahal sebentar lagi para siswa akan bubaran pulang. Alhasil, ada beberapa siswa yang kembali menyerang wartawan, alasannya karena ngga terima guru mereka dianiaya oleh wartawan sebelumnya.
Dan belakangan aku juga baru tau, kalo ternyata para siswa ini sedang menghadapi ujian. Pantas lah mereka yang sedang banyak beban ini marah ketika sekolah mereka didrop oleh wartawan. Aku pun juga pasti marah, walau ngga akan sampe nyerang mereka sih. Tapi bagaimanapun, sekolah yang mestinya menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, tiba-tiba berasa seperti medan perang berkat kedatangan para wartawan.
Kalo dipikir lagi, berbagai kerusuhan yang terjadi itu awalnya juga kayak gini. Ada satu orang yang diserang berapa orang dari kelompok lain, terus dia mengajak kelompoknya untuk menyerang balik kelompok tadi. Padahal yang menyerang cuma sebagian, tapi yang dimusuhi kelompoknya. Kalau kerusuhan aih masih mending, ada bibit-bibit permusuhan sebelumnya. Lha kalo wartawan ini? Apa sebelumnya ada kasus yang membuat mereka sebegitu bencinya sama siswa? Jangan-jangan kejadian ini justru hanya akan menciptakan bibit-bibit permusuhan antara wartawan dan siswa ( '-')
Kalo menurut ibuku sih, mestinya wartawan yang dirampas kasetnya itu cukup melaporkannya ke polisi, sambil terus mengawal proses penyidikan perkara tersebut. Ngga usah lah bawa-bawa teman wartawan lain untuk nggruduk sekolahnya. Yang merampas hanya beberapa siswa kan? Bukan sekolahnya?
Yak, segitu aja pemikiran kali ini. Mau ada praktikum nih...