Kamis, 22 September 2011

Rezeki

Ada teori menarik dari bapak ku mengenai rezeki. Sedikit terkait dengan musibah kemarin malam ini ( '-') Ada pepatah bilang, "tiap-tiap orang punya rezekinya masing-masing." Nah, bapak ku menambahinya dengan "dan juga kapasitasnya." Bayangkan kapasitasnya itu sebagai gelas, dan rezeki sebagai air. Kalau gelas itu diisi air terus, suatu saat akan tumpah. Begitu juga rezeki, ketika udah terkumpul terlalu banyak, suatu saat akan tumpah. Biasanya berupa pengeluaran yang tidak terduga. Contohnya kemarin malem. Warung tiba-tiba rame, nasi habis, lauk tinggal dikit. Alhasil, omset naik. Tapi pada waktu nutup, aku ngga sengaja numpahin sayur ke monitor dan rusak >_< habis deh omset malam itu ("~_~) Marahlah bapak ke aku, dan aku cuma bisa diem aja, sambil terus ngelap tumpahan sayur T-T Tapi waktu tak denger baik-baik, ternyata omelan bapak ini lebih ke arah nasib yang gini-gini aja. Lagi rame²nya, ada aja musibahnya.

Sering banget kejadian kayak gini terjadi di keluarga ku. Seminggu lalu, warung juga tiba-tiba rame hampir seminggu lamanya. Tapi keuntungan yang diperoleh habis untuk biaya CT Scan ibuku, yang juga dah seminggu sakit kepala ngga hilang-hilang. Beberapa tahun lalu, karena bapak ku punya niat untuk mudik ke Sumatera Selatan sekeluarga, warung jadi rame selama bulan puasa. Bayaran Ibu ku dari mengakreditasi lembaga juga turun. Jadi seolah-olah, setiap ada keperluan aja pemasukan kami meningkat. Entah itu suatu berkah atau malah apa. Soalnya itu berarti kami ngga bisa nabung untuk keperluan yang lebih besar. Misal beli rumah, atau membuka cabang baru.

Oh iya, ada cerita aneh juga mengenai cabang ini. Dulu sebelum gempa, kami punya dua warung makan. Tapi menurut bapak, pendapatan bersih setelah dikurangi semua biaya dari kedua warung itu, ngga beda jauh dengan ketika cuma mbuka satu warung. Jadi effort yang dikeluarkan untuk membuka warung kedua ini ngga berbuah. Tapi ya ngga mengapa sih, toh paling ngga bisa menyerap tenaga kerja. Keuntungan tambahan dari warung kedua ini habis untuk menggaji mereka.

Cerita terakhir, yang sama-sama aneh, terkait dengan rezeki dan karyawan, adalah ketika ada karyawan baru yang datang atau keluar. Terasa banget di perubahan jumlah pembeli. Ketika ada karyawan baru, tiba-tiba warung jadi sedikit lebih rame. Ya pokoknya terasa repot lah kalo karyawan yang baru itu ngga ada. Begitu juga pas ada karyawan yang keluar, warung juga jadi sedikit lebih sepi. Seolah-olah pepatah "setiap orang punya rezeki nya masing-masing" bekerja di sini. Masing-masing karyawan membawa rezekinya sendiri. Ketika dia masuk, rezekinya mengikuti dengan bertambahnya jumlah pembeli. Begitu juga ketika dia keluar, rezeki dia ikut dibawa pergi, yang membuat pembeli juga berkurang.

Yak, segitu aja tulisan malam ini. Dah ngantuk... ("~_~)